Surat Nabi


               Empat belas abad silam, Nabi menerima laporan bahwa ajakannya (baca:dakwah) kepada Kaisar Romawi, Heraklius, untuk berpegang pada keyakinan yang sama (kalimatun sawaa) dengan menyembah Tuhan yang Esa, ditolak dengan halus. Nabi hanya berkomentar pendek “Sa uhaajimu ar Rum min Uqri Bayti” (Akan saya perangi Romawi dari dalam rumahku). Sabda Nabi ini bukan sebuah ancaman perang, Nabi hanya melakukan sebuah diplomasi. Sabda Nabi tidak mengandung ancaman fisik dan juga tidak ada niat untuk menyakiti pihak lawan. Bagaimana bisa Rosulullah menyerang  fisik Negeri Romawi hanya dari dalam rumahnya di sebuah kota kecil yang bernama Madinah. Justru, sabda Rosulullah menunjukan keagungan risalah yang dibawanya, bahwa dari suatu tempat kecil di jazirah Arab, di kota Madinah yang baru dibangunnya di atas tanah yang tandus, Rosulullah yakin Islam akan mampu berkembang pesat, menjadi peradaban yang kelak akan mengalahkan peradaban sebesar Romawi.

                Ternyata sabda Nabi benar, pada sekitar abad ke-7, atau tidak lebih dari setengah abad setelah Nabi Muhammad wafat (632 M), umat Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia, ke Asia Barat dan Afrika Utara, kawasan yang dulunya dalam kekuasaan Alexander the Great. Menurut catatan sejarah umat Islam memasuki kawasan yang telah lama dikuasai oleh Kristen dengan tanpa perlawanan yang berarti. Bahkan selama kurang lebih 300 tahun hampir keseluruhan kawasan itu dapat menjadi kawasan muslim. Bahkan selama itu kawasan-kawasan tersebut menjadi kawasan yang makmur. Baru pada abad ke-11 kerajaan Kristen di kawasan itu mulai melawan muslim (William R Cook, The Medieval Worldview, Oxford, 1983). Bahkan peneliti kebudayaan Arab asal Inggris, Dimitri Gutas, mengakui ini. Katanya “…. pada tahun 732 M kekuasaan dan peradaban baru didirikan dan disusun denga nama agama yang diwahyukan kepada Muhammad, Islam, yang berkembang seluas Asia Tengah dan anak benua India hingga Spanyol (Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture, London, 1988) .

                Sebenarnya, kejatuhan Romawi disebabkan oleh banyak faktor, antara lain problematika agama Kristen (kekuasaan Gereja), dekadensi moral, krisis kepemimpinan, keuangan, dan militer. Dan diantara faktor terpenting penyebab jatuhnya Romawi adalah datangnya Islam. Dimana Romawi sedang dalam proses kehancuran yang disebabkan oleh rapuhnya peradaban, Islam datang dengan menawarkan pandangan dunia baru, yakni peradaban Islam.

                Nabi Muhammad tidak pernah pergi menyerang Romawi, Barat maupun Timur. Akan tetapi datangnya gelombang peradaban Islam telah benar-benar menjadi faktor penyebab jatuhnya Romawi. Apa sebab? Karena Islam mampu menggantikan peradaban Romawi yang sedang rapuh saat itu, dengan membawa sistem kehidupan yang teratur dan bermartabat, sehingga mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Jadi Islam diterima oleh bangsa-bangsa non-Arab karena universalitas ajarannya, yang mampu membawa manusia menjadi bangsa yang bermartabat, makmur, dan sejahtera.

                Demikian juga ketika Kaisar Persia Ebrewez, merobek-robek surat Nabi, yang mengajak untuk ber-Islam, sambil berkata “Pantaskah orang itu (Rosulullah) menulis surat kepadaku sedangkan ia dalah budakku”, Rosulullah hanya berkomentar singkat “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya”.

                Dan ternyata sabda Nabi kembali terbukti, bahwa sesudah itu putera Kaisar yang bernama Qabaz merebut kekuasaan dengan membunuh Kaisar Ebrewez, ayah dan rajanya sendiri. Qabaz ternyata hanya berkuasa empat bulan saja. Selanjutnya Kaisar Persia berganti-ganti hingga sepuluh kali hanya dalam empat tahun. Persia benar-benar porak poranda. Dan yang terakhir Persia dipimpin Kaisar Yazdajir, pada masa inilah Persia tidak berdaya ketika tantara Islam datang, dan kekaisaran Persia benar-benar hancur. Sekali lagi, Nabi tidak datang untuk merobek-robek kekaisaran Persia. Nabi hanya menyebarkan Islam untuk menjadi sebuah peradaban dunia.

                Di Indonesia, kita sudah mengetahui, bahwa Islam masuk ke Nusantara tanpa peperangan. Islam masuk dan diterima oleh masyarakat yang telah lama memiliki kepercayan Hindu yang kuat. Hal ini menunjukan peradaban Islam mampu mengganti peradaban setempat tanpa menggunakan pedang. Bahkan Islam tersebar, menguasai dan menyelamatkan (mengislamkan) masyarakat yang didudukinya. Faktanya, di Indonesia Islam adalah agama masyarakat yang berusaha mengusir penjajah, tidak ada eksploitasi sumber daya alam untuk dibawa ke daerah dari mana Islam berasal, tidak ada pertambahan kekayaan bagi jazirah Arab. Tidak ada kemiskinan akibat masuknya muslim ke kawasan yang didudukinya. Daerah-daerah yang dikuasai atau diselamatkan umat Islam justru menjadi kaya dan makmur. Itulah perbedaan peradaban Islam dengan perdaban Barat yang “eksploitatif”. Namun, kenapa sekarang bangsa ini masih dan mau saja dijajah oleh peradaban Barat yang rakus. Kita memang tidak menolak ajakan Rosulullah dan tidak pula merobek suratnya, akan tetapi kita berperilaku seakan-akan menolak dan merobek surat Nabi.

Wallahu waliyyu al hidayah wal inaayah.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Al Islam

Cendekiawan Diabolik



                Dalam bahasa Yunani kuno, diabolis berarti iblis. Menurut Arthur Jeferry dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Quran, istilah diabolisme diartikan sebagai pemikiran, watak, dan perilaku ala iblis ataupun pengabdian kepadanya.

Dalam Al Quran, iblis digolongkan ke dalam bangsa jin, yang diciptakan dari api. Sebagaimana diketahui, iblis dikutuk dan diusir dari surga karena menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Apakah iblis atheis (tidak bertuhan)? Jawabannya tidak, karena dia mempercayai adanya Tuhan. Apakah iblis agnostik (ragu akan Tuhan)? Jawabannya juga tidak, karena iblis tidak meragukan wujud Tuhan maupun keEsanNya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan ataupun meragukanNya, bahkan iblis percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut kafir?

Kenal dan tahu saja tidak cukup. Percaya dan mengakui saja juga belum cukup. Jadi perlu tindak lanjut  setelah percaya (iman) dan mengakui (i’tikad) dengan tindakan. Tindakan setelah beriman bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah adalah dengan kepatuhan dan ketundukan, serta melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Kesalahan iblis bukan karena ia tidak tahu dan tidak berilmu. Kesalahannya adalah karena iblis membangkang, menganggap dirinya hebat, dan melawan perintah Allah. Jadi baik jin dan manusia yang membangkang, menganggap dirinya hebat, dan melawan perintah Allah, maka bisa disebut iblis.

Golongan manusia yang berperilaku iblis ada yang nyata terlihat, namun ada juga yang tidak mudah untuk dilihat. Karena jenis manusia iblis ini berperilaku seperti muslim selayaknya, tapi jalan pikirnya lebih liar dari iblis biasa. Dalam hal ini Allah telah mengizinkan iblis untuk menggangu manusia dalam surat Al Israa ayat 64, yakni “Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu, kerahkan seluruh pasukanmu, kavaleri maupun infantri, menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka, janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]”. Maka iblis pun bertekad, “Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalanMu yang lurus, akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka” (Al A’rof: 16-17). Dalam tafsir Ibnu Katsir, menurut Ibnu Abbas r.a., Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa akan akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama.

Bahayanya, jika manusia yang bermental iblis adalah golongan akademis, atau bahkan kalangan ‘ulama’, maka dampaknya akan sangat besar terhadap umat. Kita harus jeli dalam membaca gagasan dan pikiran golongan manusia ini. Manusia seperti ini kita sebut sebagai cendekaiwan ataupun ulama diabolik. Ciri-ciri manusia seperti ini sudah dijelaskan dalam Al Quran. Antara lain, yang pertama; selalu membangkang dan membantah (Al an’am: 121), meskipun ia tahu dan paham, namun tidak pernah mau menerima kebenaran. Maka dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran, demi mempertahankan pendapatnya. Sebab yang penting baginya bukan ‘kebenaran’, akan  tetapi ‘pembenaran’. Jadi kita tidak usah heran jika ada cendekiawan yang statusnya muslim akan tetapi menolak kebenaran dan selalu membangkang. Kedua, Cendekiawan diabolik bersifat sombong, angkuh, congkak, dan arogan. Dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Sombong adalah menolak yang haq dan meremehkan orang lain”. Maka cendekiawan diabolik biasanya menganggap orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran dan hadits Nabi, sebagai orang yang dogmatis, literalis,  logosentris, fundamentalis, konservatif, kono, dan lain sebagainya. Sebaliknya, mereka yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis terhadap agama. Mereka menghujat Al Quran maupun hadits. Meraka meragukan dan menolak kebenaran yang datang dari dua sumber Islam tersebut. Yang ketiga, adalah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran. Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun sengaja memutar balikkan kebenaran. Yang batil dirubahnya menjadi haq, dipoles sedemikian rupa. Sebaliknya yang sudah haq dibuat seperti batil. Inilah yang membuat umat bingung, mana yang hak dan mana yang batil. Kedua-duanya sudah diplintir sedemikian rupa.

Contohnya seperti yang dilakukan para penggagas pluralisme agama. Mereka mengutip ayat Al Quran untuk membenarkan gagasannya, untuk mengatakan semua agama adalah sama benarnya. Bagaiamana semua agama sama benarnya, jika semua agama sama benarnya maka bisa disebut juga semua agama sama salahnya. Karena konsep “benar” akan ada jika ada konsep “salah”. Maka kita harus lebih jeli dalam memahami gagasan para cendekiawan diabolik ini. Kita harus bisa menyatakan kebenaran, bukan membenarkan kenyataan.

Wallahu Waliyyu Al Hidayah wal Inayah.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Kebenaran itu relatif?


All is relative, slogan ini sedang digandrungi oleh manusia zaman sekarang, biasanya dan kebanyakan dari mereka adalah para akademis, sering dijadikan dalil dalam berbagai hal. Nampak “menyelesaikan masalah tanpa masalah” memang, indah diucapkan dan enak didengar. Karena slogan ini mengajarkan bahwa tidak ada yang berhak menganggap dirinya paling benar, dan tidak ada yang berhak menyalahkan pendapat orang lain, karena semua kebenaran itu relatif. Seperti yang pernah dikatakan Nietzsche tokoh postmodernisme dan nihilisme. “Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar orang lain juga berhak mengklaim itu salah”. Kalau anda merasa agama anda benar, orang lain berhak mengatakan agama anda salah. Akhirnya setiap orang berkata “ya sudah lah”.

Menurut Hamid Fahmi Zarkasyi, seorang doktor dalam Filsafat Islam, slogan ini bagaikan firman tanpa tuhan, dan sabda tanpa Nabi, menyerupai undang-undang, tapi tanpa penguasa. Tepatnya doktrin ideologis, tapi tanpa partai. Baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka, tidak ada ukuran yang jelas. Semua tergantung siapa yang menilai.

“Berfikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”, sebab kebenaran itu relatif. “Jangan terlalu lantang bicara tentang kebenaran, dan jangan menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif. “Benar bagi anda belum tentu benar bagi kami”, semua adalah relatif. Begitulah kiranya pengaruh dari doktrin relativisme, yang menjadi sebuah kerangka berfikir. Mau tidak mau, semua orang dipaksa mengamini doktrin ini. Dan semua dipaksa memejamkan mata dan mengatakan setuju terhadap slogan ini. Sepertinya usaha untuk menjinakkan kebenaran telah berhasil.

Akhirnya, merasa benar hukumnya makruh, merasa paling benar itu diharamkan. Lagi-lagi karena semua kebenaran itu relatif. Para artis, selebritis, bahkan cendekiawan berlabel muslim ikut meramaikan dengan merdu melantunkan dan lantang meneriakkan “semua benar dan harus dihormati”. Lebih hebat lagi mereka berujar “Surga Tuhan terlalu sempit kalau hanya untuk ummat Islam”. Seakan sudah pernah masuk dan mengukur luas surga Allah dan malah mendahului iradat Allah. Mereka bicara seperti atas nama Tuhan.

There exists no Absolute Truth, tidak ada kebenaran mutlak, itulah hasil dari All is relative. Lantas bagaimana menjawabnya?. Jika anda mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” maka kata-kata anda itu sendiri sudah mutlak, padahal anda mengatakan semua relatif. Jika anda mengatakan “semua adalah relatif” atau “Semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan anda itu juga relatif alias tidak absolut.  Kalau “semua adalah relatif” maka yang mengatakan “disana ada kebenaran mutlak” sama benarnya dengan yang menyatakan “disana tidak ada kebenaran mutlak”. Confusing bukan?

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Belajar Filsafat yuk..

Perkembangan Dakwah Islam Di Thailand



Perkembangan Dakwah Islam Di Thailand

(Sebuah Upaya Dakwah Dengan Politik Pendidikan Islam)[1]

Abstrak

Hampir terdapat umat Islam di seluruh Negara di kawasan Asia Tenggara. Di Thailand, Negri yang mayoritasnya beragama Budha, terdapat kurang lebih 6,5 juta umat Islam, atau 10% dari seluruh populasi penduduk Thailand yang berjumlah 65 juta orang. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, seperti di propinsi Pha Nga, Songkhla, Narathiwat dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Dengan jumlah umat yang menjadi minoritas ini, walau menjadi agama ke-dua terbesar setelah Bhuda, umat Islam Thailand sering mendapat serangan dari umat Bhuda (umat Budha garis keras), intimidasi, bahkan pembunuhan masal.

Dalam makalah ini, pemakalah akan mencoba membahas beberapa hal penting tentang Islam di Thailand. Antara lain: Sejarah masuknya Islam di Thailand, agama-agama di Thailand, hubungan warga muslim Thailand dengan Pemerintah, serta perkembangan pendidikan Islam di Thailand dan hubungannya dengan sistem pendidikan nasional Thailand, hal-hal tersebut menjadi pembahasan pemakalah dalam tulisan ini, karena merupakan sebuah upaya besar dalam mengangkat dan menyebarkan agama Islam.

Sejarah Masuknya Islam Di Thailand

Ada beberapa teori tentang masuknya Islam di Thailand. Diantaranya ada yang mengatakan Islam masuk ke Thailand pada abad ke-10 melalui para pedagang dari Arab.[2] Dan ada pula yang mengatakan Islam masuk ke Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.[3]

Jika kita melihat peta Thailand, kita akan mendapatkan daerah-daerah yang berpenduduk muslim berada persis di sebelah Negara-negara melayu, khususnya Malaysia. Hal ini sangat berkaitan erat dengan sejarah masuknya Islam di Thailand, “jika dikatakan masuk”. Karena kenyataanya dalam sejarah, Islam bukan masuk Thailand, tapi lebih dulu ada sebelum Kerajaan Thailand “ Thai Kingdom” berdiri pada abad ke-9.[4]

Menurut pemakalah, Islam berada di daerah yang sekarang menjadi bagian Thailand Selatan sejak awal mula penyebaran Islam dari jazirah Arab. Hal ini bisa kita lihat dari fakta sejarah, seperti lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand. Dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah Pattani menjadi bukti bahwa Islam sudah ada lebih dulu sebelum Kerajaan Thai.

Dan lebih dari itu, penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara merupakan suatu kesatuan dakwah Islam dari Arab, masa khilafah Umar Bin Khatab” (teori arab).[5] Entah daerah mana yang lebih dahulu didatangi oleh utusan dakwah dari Arab. Akan tetapi secara historis, Islam sudah menyebar di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak lama, di Malakka, Aceh (Nusantara), serta Malayan Peninsula termasuk daerah melayu yang berada di daerah Siam (Thailand).[6]

Agama – agama Di Thailand

Ada banyak hal menarik dari diskusi mengenai agama-agama di Thailand. Setelah membaca beberapa artikel di laman-laman di Internet, pemakalah akan mencoba menggambarkan pada pembaca tentang keberagaman agama dan sikap masyarakat Thailand tentang keberadaan tersebut.

Seperti yang kita ketahui, Budha adalah agama terbesar di Thailand, karena resmi menjadi agama kerajaan. Kehidupan Bhuda telah mewarnai hampir seluruh sisi kehidupan di Thailand, dalam pemerintahan (kerajaan), sistem dan kurikulum pendidikan, hukum, dan lain sebagainya. Namun, Selain agama Bhuda, di Thailand juga terdapat agama-agama lain. Di antaranya yang pemakalah ketahui adalah Islam, Kristen, Confucius, Hindu, dan Sikh.

Islam, sedikitnya sudah dibahas di atas. Tapi akan pemakalah tambahkan mengenai sikap masyarakat non-muslim (pemerintah) terhadap agama Islam. Dalam sebuah website Thailand untuk promosi wisata, keberagaman agama diangkat menjadi komoditi untuk “dijual” kepada masyarakat dunia.[7] Nampaknya isu pluralisme juga berkembang di Thailand. Hal ini bisa kita lihat dari cara pandang beberapa kalangan tentang keberagaman agama di Thailand.

Pemerintah, dalam hal ini kerajaan, memberi kesempatan bagi warga muslim untuk beribadah dan menganut kepercayaan masing-masing. Bahkan, Raja Thailand juga menghadiri perayaan acara dan hari-hari penting dalam Islam. Kabar baiknya, pemerintah membantu penerjemahan Al Quran ke dalam bahasa Thai, juga membolehkan warga muslim mendirikan masjid dan sekolah muslim. Kurang lebih tercatat terdapat 2000 masjid (100 masjid berada di Bangkok) dan 200 sekolah muslim di Thailand. Umat islam di Thailand bebas mengadakan pendidikan dan acara-acara keagamaan.[8]

Kristen, agama ini dikenalkan pertama kali ke Thailand oleh misionaris dari Eropa pada abad ke-16 dan ke-17. Kristen Katolik pertama datang ke Thailand disusul oleh Kristen Protestan, bahkan beberapa sekte juga berkembang di sana, seperti Advent. Umat Kristen Thailand pada umumnya adalah imigran dari Cina. Sedangkan warga pribumi “siam” hanya sedikit yang berpindah agama dari Budha ke Kristen. Justru yang terjadi adalah seorang siam beragama Kristen tapi tetap menyembah Sang Budha.

Kongfusius, agak sama dengan Kristen. Agama ini dianut oleh imigran dari Cina. Karena agama ini bersifat ajaran-ajaran filsafat hidup dan etika Cina kuno. Maka, pemeluknya pun kadang beragama Kristen, berajaran kongfusius, dan yang keturunan pribumi tetap menyembah Sang Budha.

Hindu, hampir 20.000 orang India menetap di Thailand. Jumlah mereka terbagi menjadi dua, Hindu dan Sikh. Umat Hindu berpusat di Bangkok. Mereka beribadah di pure-pure. Mereka juga menjalankan pendidikan sendiri, akan tetapi sistem pendidikannya didasarkan pada sistem pendidikan nasional Thailand.

Sikh, agama Sikh juga berpusat di Bangkok. Terbagi menjadi dua kelompok dan beribadah di pure yang berbeda juga. Secara bersama, mereka mendirikan sekolah-sekolah gratis untuk anak-anak miskin.

Secara garis besar, Kerajaan menjamin sepenuhnya keberagaman agama di Negri Gajah Putih ini. Dengan catatan dalam satu kesatuan nasionalisme “Siam”. Jadi, yang keluar dari nasionalisme atau dianggap keluar maka akan berurusan dengan kerajaan. Seperti yang terjadi pada warga muslim, ada yang diserang militer, bahkan dibunuh.

Hubungan Islam dengan Pemerintah, khususnya bidang pendidikan


Nampaknya, sejauh pembahasan ini, kita mendapatkan beberapa informasi baru tentang Islam di Thailand. Salah satunya ialah sikap pemerintah terhadap warga muslim yang berada di Thailand. Namun, itu belum cukup untuk memahami bagaimana hubungan Islam dan Pemerintah. Bahkan kita pantas bertanya, adakah peran Islam dalam Pemerintahan (kerajaan) Thailand.

Dalam majalah Hidayatullah edisi Juli 2009, terdapat sebuah laporan yang bertajuk “Thailand Rayu Warga Muslim Agar Tidak Pisahkan Diri”. Laporan itu menyebutkan bahwa Thailand berencana akan menambah hak otonomi dan mempertimbangkan untuk memperluas penerapan hukum syariah di propinsi-propinsi Muslim yang berbatasan dengan Malaysia, demikian dikatakan oleh Abhisit.[9]

Dari pernyataan Abishit, kita bisa memahami bahwa Pemerintah sedang berusaha merangkul warga muslim yang berada di beberapa propinsi agar tidak bercerai dengan kerajaan Thailand. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Abishit terhadap masyarakat muslim Thailand. Dia menyatakan bahwa pemerintahnya “membuktikan” kepada rakyat di wilayah itu bahwa “tidak akan ada lagi ketidakadilan”. Lanjutnya, “Kita harus melakukan pendekatan ini dan harus bersabar. Kita tidak dapat mengubah persepsi yang sudah terbentuk atau kepercayaan yang hilang di masa tujuh atau delapan tahun ini hanya dalam waktu beberapa bulan saja.”[10]

Ternyata Pemerintah memahami betul bahwa upaya pemerintah untuk menciptakan perdamaian dengan kekuatan militer tidak terlalu membuahkan hasil. Bahkan memperparah keadaan dan melahirkan gerakan perlawanan yang lainnya. Maka, untuk menciptakan perdamaian di Thailand selatan, pemerintah membuat terobosan baru, yakni dengan jalur pendidikan.

Dalam majalah Gatra bertanggal 2 September 2007, terdapat sebuah laporan yang menyebutkan upaya pemerintah dalam mendamaikan konfilk yang terjadi di Thailand Selatan. Dalam laporan disebutkan bahwa Perdana Menteri Surayud Chulanont, mengumumkan bahwa pemerintahnya akan memasukan pelajaran Agama Islam dalam sistem pendidikan di negara yang berpenduduk mayoritas Budha itu. “Saya telah menugaskan Departemen Luar Negeri untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia serta mempelajari jenis silabus pendidikan apa yang perlu diperbaiki untuk pendidikan dasar di negara kita,” kata Chulanont, dalam pernyataan, seperti dikutip kantor berita Thailand.

Chulanont mengatakan pelajaran Agama Islam boleh diajarkan di sekolah-sekolah mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di provinsi-provinsi di bagian selatan untuk jangka panjang.

Ia mengatakan, pemerintahnya sedang mempertimbangkan untuk memperkerjakan para sarjana untuk mengajar Agama Islam di sekolah-sekolah negeri. Kurangnya mata pelajaran Agama Islam di sekolah-sekolah negeri di Thailand Selatan telah mendorong warga muslim mendaftarkan anak-anak mereka pada sekolah-sekolah Islam swasta.

Chulanont kembali mengulangi himbauannya untuk menciptakan perdamaian di provinsi-provinsi bergejolak itu. Perdana menteri yang mendapat dukungan militer itu mengatakan pemerintahnya akan berusaha sebaik mungkin untuk menciptakan pengertian yang lebih baik antara warga muslim dan Budha untuk membantu mengurangi apa yang ia sebut sebagai perpecahan.

Junta militer pimpinan kepala staf angkatan darat Sonthi Boonyaratglin yang beragama Islam telah membawa harapan perdamaian bagi penduduk di wilayah selatan yang telah lama mengeluhkan kebijakan kaku perdana menteri terguling Thaksin Shinawatra.

Chulanont telah mengambil sejumlah tindakan untuk mendapatkan kepercayaan dari warga muslim Thailand, mulai dari ucapan permintaan maaf atas penyalahgunaan kekusaan dan ketidakpedulian selama bertahun-tahun.[11]

Perkembangan Pendidikan Islam Di Thailand


Setelah mengalamai konflik yang berkepanjangan, akhirnya Islam di Thailand menemui titik kemajuan. Pastinya hal ini atas perjuangan panjang masyarakat muslim Thailand. Yang akhirnya pemerintah memperbolehkan warga muslim Thailand untuk menyelenggarakan pendidikan Islam. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh umat Islam untuk mengembangkan pendidikan Islam. Tercatat 200 lembaga pendidikan Islam dan 2000 masjid berdiri di Thailand. Bahkan beberapa dari 200 lembaga pendidikan itu menggunakan sistem pesantren yang sama persis di Indonesia. Itu artinya sistem pendidikan yang dipakai sama seperti di negri berpenduduk  Islam lainya, seperti Indonesia dan Malaysia.

Sistem pendidikan Islam di Thailand ternyata tidak dilakukan di sekolah-sekolah dan pesantren saja. Proses pendidikan Islam di Thailand sudah mengalami perkembangan dan kemajuan. Hal itu bisa kita lihat dari kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh beberapa lembaga Islam. Seperti pengajian bapak-bapak dan ibi-ibu, TPA/TKA dan kajian mingguan mahasiswa adalah beberapa kegiatan rutin yang diadakan mingguan. Masyarakat dan Pelajar Muslim Indonesia juga mengadakan silaturrahim bulanan dalam forum pengajian Ngajikhun.  Acara ini dilaksanakan di berbagai wilayah di Thailand.

Tidak hanya itu saja. Program pengembangan pendidikan Islam di Thailand sudah mencapai level yang lebih dari sekedar nasional dan regional. Umat muslim Thailand bekerjasama dengan beberapa lembaga pendidikan Negara lain, baik yang nasional maupun internasional untuk mengadakan seminar internasional pendidikan Islam.[12] Mereka mengirimkan kader-kadernya ke berbagai universitas dunia, seperti Al Azhar Mesir, Madinah. Dan juga beberapa universitas tanah air, seperti UII, UIN, dan lainnya. Termasuk juga mengirimkan putra-putra Thailand ke berbagai pesantren di Indonesia, termasuk Gontor.

Penutup

Perjalanan masyarakat muslim Thailand dalam berdakwah boleh kita acungi jempol. Hidup dalam Negara yang mayoritas non-muslim sejatinya bukan hal yang mudah, penuh dengan cobaan, dicurigai, diintimidasi, diserang, bahkan dibunuh. Perjuangan yang mereka lakukan di bumi Thailand merupakan satu dari rentetan sejarah penyebaran Islam, dari zaman Rosulullah sampai akhir zaman nanti.

Setelah perjuangan bertahun-tahun, akhirnya muslim Thailand menemui momentum yang menggembirakan, mencapai titik kemajuan dalam berdakwah, meskipun baru bisa kita bilang berhasil bertahan, mempertahankan agama Islam.

Namun, kemajuan yang didapat juga sangat luar biasa, yakni mendapat kepercayaan dari kerajaan yang notabene adalah umat Bhuda, untuk menyelenggarakan pendidikan Islam, bahkan belakangan kurikulum pendidikan Islam akan dimasukkan di sekolah-sekolah negri (mungkin sekarang sudah). Kemajuan ini tentunya bukan hal sepele dan mudah, tentunya bisa kita bayangkan perjuangan umat Islam di sana, dalam menghadapai masyarakat Bhuda dan Pemerintahnya. Jika kita bandingkan dengan Negri kita Indonesia yang mayoritas muslim. Pendidikan Islam di lembaga pendidikan non-muslim masih diperdebatkan, padahal ada siswa-siswi muslim di lembaga pendidikan non-muslim, dan mereka mengikuti materi pendidikan agama yang tidak mereka anut.

Kemajuan dakwah Islam di Thailand lewat jalur pendidikan pastinya masih panjang, dan ini baru permulaan. Mereka pun tahu akan hal ini, maka mereka mengembangkannya, mengawalnya, dan menjaga perkembangan tersebut dari hal-hal yang bisa menghancurkan, dari dalam maupun luar, dari isu-isu pluralisme, terorisme, radikalisme, dan lain sebagainya yang selalu memojokkan Islam.

Usaha-usaha dalam mengembangkannya antara lain meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Thailand dengan mengirim kader-kader ke berbagai Negara Islam, mengadakan seminar-seminar pendidikan Islam, mengadakan kerjasama dalam bidang pendidikan Islam, dan lain sebagainya, Serta yang paling penting tetap membina hubungan yang baik dengan Kerajaan.

Wallahu Waliyyyu Al-Hidayah Wa At-taufiq..

Referensi

Aphornsuvan, Thanet, History and Politics of the Muslims in Thailand, (pdf), Thammasat University, 2003.

Munawar, Indra, Sejarah Perkembangan Islam di Patani, (pdf). Jakarta, 2009.

Majalah Hidayatullah, Thailand Rayu Warga Muslim Agar Tidak Pisahkan Diri, edisi Juli 2009.

Majalah Gatra, edisi September 2009.

Majalah Gontor, edisi Desember 2010.

http://www.hellosiam.com/html/thailand/thailand-religion.htm

http://indramunawar.blogspot.com/2009/04/html.


[1] Makalah disampaikan pada diskusi kelas dalam materi Islam Asia Tenggara, Fakultas Ushuluddin, Intitut Studi Islam Darussalam, Gontor, 14 Januari 2011.

[2] Indra Munawar, Sejarah Perkembangan Islam di Patani, (pdf). Jakarta, 2009. Lihat juga di http://indramunawar.blogspot.com/2009/04/html.

[3]Pendapat ini menjelaskan bahwa dahulu ketika kerajaan Samudra Pasai ditaklukkan oleh Thailand, banyak orang-orang Islam yang ditawan, kemudian dibawa ke Thailand. Para tawanan itu akan dibebaskan apabila telah membayar uang tebusan. Kemudian para tawanan yang telah bebas itu ada yang kembali ke Indonesia dan ada pula yang menetap di Thailand dan menyebarkan agama Islam.

[4] Thanet Aphornsuvan, History and Politics of the Muslims in Thailand, (pdf), Thammasat University, 2003, hal. 7. Thanet menyebutkan “Muslims have been in Thailand since before the formation of the Thai kingdoms in the ninth century. As early as the ninth century Muslim merchants settled in Malakka, Aceh and Melayu peninsula including the area that was then the southern part of Siam. From there, Islam spread to other parts of Southeast Asia like Sumatra, Java, and Borneo or Kalimantan.”

[5] Rif`at Husnul Maafi, dalam perkuliahan mingguan Fakultas Ushuluddin ISID Materi Islam Asia Tengagara, 4 November 2010. Kampus Robithoh. Pendapat ini “teori arab” didukung oleh beberapa tokoh, antara lain Crowfard, Nieman, Naquib Al Attas. Mereka berpendapat Islam sudah berkembang dan menyebar sejak awal, atau periode awal Islam, pada masa khilafah Umar Bin Khattab.

[6] Thanet Aphornsuvan, History and Politics of the Muslims in Thailand, (pdf), Thammasat University, 2003, hal. 14.

[7]Mereka menyebut keberagaman ini sebagai masyarakat “Siam”, Lihat di  http:// www. hellosiam .com/ html/thailand/thailand-religion.htm

[8] http://www.hellosiam.com/html/thailand/thailand-religion.htm

[9] Srisompot Jitprisomsri, dosen ilmu politik Universitas Pageran Songkhla, Pattani, mengatakan, “Sebagian besar Muslim Melayu hanya meginginkan hak otonomi dan desentralisasi administratif yang lebih luas, sehingga mereka mempunyai ruang bagi identitas kebudayaan dan agama mereka sendiri. Selama ini identitas asli mereka dikekang oleh pemerintah pusat.”Namun sepertinya janji itu dilakukan setengah hati. Dalam sebuah wawancara di Singapura beberapa waktu lalu Abhisit mengatakan, “Desentralisasi dan ketentuan-ketentuan tambahan untuk memenuhi kebutuhan tertentu bisa diberikan. Kita dapat mengabulkan tuntutan atas kebutuhan penerapan hukum syariah, di bidang pendidikan.”

[10] Majalah Hidayatullah, Thailand Rayu Warga Muslim Agar Tidak Pisahkan Diri, edisi Juli 2009.

[11]Majalah Gatra, edisi September 2009.

[12] Lihat laporan perjalanan Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dan Dr. Amal Fathullah Zarkasyi dalam menghadiri seminar internasioanl pendidikan Islam di Thailand, yang ditulis di Majalah Gontor edisi Desember 2010. Dalam laporannya, mereka menyebutkan bahwa tujuan seminar tersebut untuk mengumpulkan para pakar yang mampu melihat kepentingan pendidikan Islam dan masyarakat muslim; mengenalkan pendidikan Islam di ASEAN dengan cara sharing ide, pengetahuan, dan pemahaman; serta memberi kesempatan kepada para ahli pendidikan untuk bekerjasama dalam mengembangkan pendidikan Islam.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Unitarian Dan Trinitian


Unitarian vs Trinitian

M. Afthon Lubbi Nuriz Lanjut membaca

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Kristen

Pendewaan Manusia


Pendewaan Manusia

Dewa, kata ini memiliki arti sebagai sesuatu yang berada di atas manusia, mempunyai kekuatan, di kerajaan lain, dan yang paling penting dianggap mengatur kehidupan manusia. Pada zaman kuno, manusia menyembah dewa-dewa. Di Mesir, India, China, Persia, Yunani, dan di tempat-tempat peradaban kuno lain-nya. Manusia menyembah dewa melalui banyak cara, dengan berhala, pengorbanan sebagai tumbal, sebagai penebusan dosa, dan lain sebagainya.

Tulisan ini akan mencoba memaparkan data beberapa nama dewa kepada pembaca, bahwa dewa-dewa yang pernah ada pada zaman kuno dulu adalah hasil pendewaan oleh manusia, kecuali fir’aun dan kawan-kawan yang menganggap dirinya tuhan (baca:dewa, inggris: god).

Mitra

Dia adalah dewa matahari bangsa Persia. Menurut kepercayaan setempat, Mitra adalah putra seorang perawan yang dilahirkan pada tanggal 25 desember di gua. Dia memiliki 12 murid dan sebagai juru selamat bangsanya yang sudah lama ditunggu kedatangannya. Dia hidup sengsara dan mati karena harus menanggung dosa para pengikutnya, kemudian hidup kembali dan disembah sebagai inkarnasi dari dewa.

Hari minggu merupakan hari suci bagi agama Mitra. Pada hari itulah bangsa Persia melakukan pemujaan kepada dewa Mitra. Jejak pemujaan hari ini masih kita jumpai dengan nama hari minggu dalam bahasa asing: Sun-day = Sunday (inggris), Son-tag = Sontag (Jerman), Zon-dag = Zondag (Belanda). Kata “Sun, Son, dan Zon” artinya “matahari”. Dalam bahasa inggris sun berarti matahari dan son berarti anak laki-laki, akan  tetapi pengejaanya sama.

Adonis

Adonis adalah istilah dalam bahasa Yunani yang berasal dari bahasa Syiria “Adon” yang berarti “Tuhan”. Sebuah gelar yang diberikan kepada dewa Babilonia yang bernama Tammuz. Ia dipercaya lahir pada tanggal 25 Desember. Dia mati dibunuh oleh Typhoon, tetapi setelah tiga hari di liang kubur, ia bangkit kembali manjadi juru selamat bangsa Syiria. Pemujaan kepada Adonis ini juga dilakukan oleh penduduk Antiokia dan Siprus, serta wilayah-wilayah sekitar Mediterania lainnya.

Kepercayaan pada dewa Tammuz juga diceritakan oleh Bibel dalam Kitab Perjanjian Lama yang berbunyi sebagai berikut:

“Lalu dibawaNya aku dengan pintu gerbang rumah tuhan yang di sebelah utara, sungguh, di sana ada perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus”

Attis

Dia adalah dewa di Frigia, Turki. Dilahirkan dari seorang perawan bernama Nana dan menjadi anak yunggal dewa maha agung Cybele. Dia mati dengan menjalani hukuman salib pada tanggal 24 Maret, dan darahnya dianggap sebagai penebus dosa manusia. Tetapi pada tanggal 25 Maret dia bangkit kembali. Kebangkitan dari kubur ini, selalu dirayakan oleh para pengikutnya.

Bacchus (Dionysus)

Dia adalah dewa matahari bangsa Yunani, anak dari seorang perawan yang bernama Demeter (Dimitris), dan sebagai titisan dewa Yupiter. Dia dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dan mati sengsara karena harus menggung dosa manusia. Kemudian ia bangkit kembali dari kuburnya. Setiap tanggal 25 Desember bangsa Yunani merayakan hari ulang tahunnya secara besar-besaran.

Osiris

Dewa matahari bangsa Mesir ini lahir tanggal 29 Desember dari seorang perawan yang disebut “perawan dunia”. Dia memiliki 12 murid, diantaranya adalah Typhoon, yang membunuh dan mencurahkan darah segarnya sebagai penebus dosa. Jasadanya dimasukkan kedalam peti dan dikubur. Tetapi tiga hari kemudian, ia bangkit dan diyakini sebagai inkarnasi dewa yang menjadi juru selamat bangsa Mesir kuno.

Krisna

Dia lahir dari seorang wanita bernama dewaki tanpa disentuh oleh seorang laki-laki pun. Dialah anak tunggal dewa wisnu, kemudian menjadi dewa alfa omega (yang awal dan yang akhir). Di saat kematiannya, matahari tanpak gelap siang hari. Dia bangkit dari kuburnya dan bersemayam di langit. Di hari akhir nanti, dia akan menjadi hakim di hari pembalasan. Dan sebagai inkarnasi salah satu dewa dari tiga oknum Trimurti dalam agama hindu.

Lepas dari benar tidaknya cerita-cerita pendewaan tersebut, yang jelas itulah pendewaan manusia yang terjadi dalam sejarah manusia. Pendewaan manusia oleh manusia sudah terjadi ribuan tahun yang lalu, bahkan sampai hari ini. Yang paling menarik dari sejarah pendewaan manusia adalah kesamaan dalam beberapa hal, anatara lain tanggal lahir 25 Desember, penebusan dosa, hari minggu, perempuan suci, kebangkitan dari kubur, dan lain sebagainya, yang akhirnya nanti mempengaruhi kisah pendewaan (penuhanan) manusia terhadap Nabi Isa.

Di Indonesia, pengaruh pendewaan masih sangat terasa, masih sangat banyak, baik dalam bentuk agama-agama maupun aliran kepercayaan dan kebatinan. Bahkan di Negara-negara yang masyarakatnya menganggap diri mereka super-rasional pun masih saja percaya dengan dewa, bahkan masih mendewakan anak manusia.

Sepertinya, tugas para rosul dan para pewaris rosul dari ribuan tahun lalu sampai hari ini sama saja, yakni menyampaikan risalah tauhid. Hari ini, adalah tugas para warosatul anbiya’, yakni para ulama dan calon ulama, untuk menjaga akidah umat muslim dari pendewaan manusia (syirik).

Wallahu A’lam Bishowaab.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Kristen

Ekonomi Maritim Dan Desakralisasi Kelautan


وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(النحل:14)

Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. (QS. An Nahl : 14).

Terdapat 32 ayat dalam Al Quran yang membicarakan tentang kelautan dalam berbagai segi. Sedangkan kata daratan hanya tersebut 13 kali. Jika kita membuat perbandingan dengan jumlah keduanya, yakni 45 ayat. Maka perbandingannya menjadi 70:30. Bukan suatu kebetulan jika sains modern mengungkapkan bahwa bumi tersusun dari 71,11 persen berupa lautan dan 28,88 persen berupa daratan.

Laut bumi mempunyai kekayaan yang luar biasa, bisa disebut ajaib. Setiap harinya jutaan ikan dan kekayaan laut lainnya diambil oleh manusia. Seorang guru besar ilmu ekonomi, Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin mengungkapkan bahwa Nusantara memiliki keunikan yang begitu menakjubkan, telah mempengaruhi iklim global, karena dari sinilah lahir El Nino, La Nina dan variasi-variasi iklim lain di daerah. Di samping itu kepulauan Nusantara mempunyai struktur pinggiran yang berpotensi mengandung sumber-sumber daya alam seperti mineral, air, uap alam, minyak dan gas alam.

Karena letaknya di daerah tropis, kepulauan Nusantara memiliki hutan tropis yang sangat subur dan dilengkapi dengan kehidupan flora dan fauna yang begitu beragam.

Dari sektor perikanan, dengan luas perairan Nusantara sekitar 5,8 juta km², menurut catatan Departemen Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin dalam bukunya “Ekonomi Maritim”, memberikan catatan adanya opportunity yang terabaikan sebesar 41 persen atau sekitar 2,6 juta ton per tahun dari potensi ikan sebanyak 6,7 juta ton per tahun. Analisa fakta yang luar biasa.

Belum lagi jika kita melihat data geologi dari Panitia Pengembangan Riset dan Teknologi Kelautan serta Industri Maritim, yang menyatakan bahwa di Indonesia terdapat 60 cekungan yang berpotensi mengandung minyak  dan gas bumi. Dari 60 cekungan itu, 15 di antaranya telah berproduksi; 23 cekungan sudah dibor dan 22 cekungan belum dilakukan pemboran. Diperkirakan 60 cekungan itu berpotensi menghasilkan 106,2 miliar barel  minyak mentah, namun baru 16,7 miliar barel yang diketahui dengan pasti; 7,5 miliar barel di antaranya sudah dieksploitasi dan sisanya sebesar 89,5 miliar barel belum terjamah.

Begitu juga di sektor Transportasi dan Perhubungan Laut, luas lautan dengan segala isinya yang kita miliki tidak sebanding dengan jumlah terbatas dari armada dan pelabuhan kita saat ini.

Data dari Ditjen Perhubungan Laut pada tahun 1999, mencatat jumlah armada pelayaran sebanyak 5.392 unit; armada non pelayaran sebanyak 1.066 unit; pelayaran rakyat 2.793 unit; perintis 37 unit dan Pelni 22 unit. Sedang pelabuhan yang tersedia hanya sekitar 3.247 unit.

Dari pangsa pasar muatan angkutan dalam negeri, pelayaran hanya mampu mengangkut muatan sebanyak 50,15 persen, sedang untuk pengangkutan luar negeri hanya 4,79 persen saja.  Namun, pelayaran asing untuk mengangkut pangsa pasar angkutan ke luar negeri berhasil mengangkut sekitar 95,21 persen. Angka yang sangat memprihatinkan bagi pelayaran nasional Indonesia.

Teknologi manusia semakin canggih dalam meningkaatkan ekonomi kelautan. Dari zaman nenek moyang kita melaut sampai zaman ini, ikan di lauatan tak pernah habis dimanfaatkan manusia. Ironinya, sedikit sekali yang sadar akan pemberian Sang Pencipta ini. Dari mana asal ikan-ikan dan semua kekayaan laut itu. Pemberian ini hanya dianggap sebagai aktivitas alam biasa, ikan bertelur, bekembang biak, diambil dari laut dan dijual untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Lebih ironi lagi, kekayaan laut yang luar biasa ini tidak membuat makmur dan sejahtera negeri ini, khususnya para nelayan dan pelaut. Hanya sebagian orang yang menikmatinya. Kenapa demikian?

Manusia yang terpengaruhi filsafat materialisme hanya menganggap alam dan semua isinya sebagai materi semata. Hutan, laut dan kekayaan lainnya hanya dianggap sebagai objek eksploitasi untuk dijadikan kekayaan yang berbentuk lembaran uang, atau untuk menambah jumlah angka-angka di rekening bank, maka mereka menjadi manusia yang meterialistis. Manusia tidak menganggap alam semesta ciptaan Allah ini sebagai hal yang sakral (suci) yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya.

Islam sebagai pandangan hidup sudah diabaikan. Islam sebagai ajaran dan pedoman hidup telah mengatur manusia dalam segala hal. Tidak satu hal pun dalam alam semesta ini yang tidak lepas dari aturan hidup yang yang maha sempurna ini. Prinsip keadilan, kabersamaan, kejujuran, dan prinsip hidup Islam lainnya seharusnya menjadi prinsip perekonomian negeri yang kaya potensi ini.

Pandangan hidup Islam seharusnya menjadi bangunan konsep kehidupan manusia. Pandangan yang berdasarkan pada konsep ketuhanan mengajarkan manusia agar menjadi hamba yang tunduk dan bersyukur kepada Sang Pencipta (`abdan syakuro). Dengan begitu lahirlah konsep-konsep ilmu kehidupan yang tauhidi, menciptakan ilmu-ilmu yang mencerahkan dan membawa manfaat di dunia dan akhirat.

 

Seorang pengusaha, pemerintah, nelayan, petani, dan lain sebagainya seharusnya berprinsip dan berpandangan hidup Islami. Memandang alam raya beserta isinya sebagai ciptaan dan anugrah Sang Pemberi hidup. Tidak hanya mengakuinya, tapi juga menjalankan dan mengelola bumi ini sesuai dengan ajaran Islam. Agar karunia laut beserta isinya, darat beserta apa yang ada di atasnya dapat dirasakan manfaatnya oleh semua yang hidup di atas bumi. Dan manusia menjadi hamba yang selalu bersyukur, seperti apa yang tertulis pada surat An Nahl ayat 14. La`allakum tasykurun..

Wallahu a`lam bishowab.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized